KARAWANG / mediapresisi.id — Di tengah dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Cengkong, semangat kebersamaan dan persaudaraan menjadi pesan penting yang mengemuka dalam acara silaturahmi akbar tim relawan RT Aja bersama calon Kepala Desa Cengkong, Rusta Miharaja, di wilayah RT 10, Perumahan Bumi Karawang Residence (BKR), Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Di balik suasana keakraban yang terjalin, tersimpan harapan agar perbedaan pilihan politik tidak menjadi tembok pemisah yang meretakkan hubungan antarwarga. Sebab, siapa pun yang nantinya terpilih menjadi pemimpin desa, masyarakat Cengkong tetaplah satu keluarga besar yang harus menjaga kerukunan.
Acara ini dihadiri H. Saepudin Permana, anggota Fraksi Partai Golkar, sejumlah tokoh agama, para ketua RT, serta simpatisan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membuka ruang komunikasi di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kontestasi Pilkades Cengkong.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang ketua RT yang hadir mengungkapkan rasa senangnya atas undangan tersebut. Baginya, pertemuan itu memiliki makna tersendiri karena memberikan ruang kebersamaan tanpa sekat kelompok maupun perbedaan latar belakang.
“Saya sangat senang dengan undangan ini, khususnya karena ditujukan kepada para ketua RT. Dalam undangan tersebut, saya melihat tidak ada upaya mengotak-ngotakkan atau membeda-bedakan,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa di tengah persaingan politik, sikap saling menghargai merupakan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan. Perbedaan dukungan terhadap calon kepala desa adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut membuat tetangga saling menjauh, sahabat saling bermusuhan, bahkan hubungan kekeluargaan menjadi renggang.
Ia pun berharap semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut dapat terus dipertahankan, bukan hanya selama tahapan Pilkades berlangsung, melainkan juga setelah pesta demokrasi desa berakhir.
Lebih jauh, ia menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Desa Cengkong agar menggunakan hak pilih secara bijaksana, dengan mempertimbangkan hati nurani dan keyakinan masing-masing.
“Saya berpesan kepada seluruh warga agar menggunakan hak pilih dengan hati nurani. Jangan sampai terprovokasi atau tergiur iming-iming sesaat. Pilihlah sesuai keyakinan dan pertimbangan masing-masing,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah dinamika politik desa yang berpotensi menghadirkan beragam kepentingan dan perbedaan pandangan. Masyarakat diharapkan tidak mudah terseret provokasi, tidak terburu-buru mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya, serta tetap mengedepankan sikap dewasa dalam menentukan pilihan.
Sebab, masa depan desa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berhasil meraih suara terbanyak, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga suasana yang aman, damai, dan harmonis selama proses demokrasi berlangsung.
Pilkades sejatinya merupakan momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah kepemimpinan desa. Namun, lebih dari itu, pesta demokrasi juga menjadi ujian kedewasaan warga dalam menyikapi perbedaan.
Jangan sampai karena berbeda pilihan, hubungan yang selama ini terjalin baik justru berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai kepentingan politik sesaat mengalahkan nilai persaudaraan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Semangat inilah yang diharapkan tetap tumbuh di tengah masyarakat Desa Cengkong. Dukungan terhadap calon mana pun merupakan hak setiap warga, tetapi menghormati pilihan orang lain adalah bagian penting dari kehidupan berdemokrasi.
Silaturahmi akbar yang digagas relawan RT Aja bersama Rusta Miharaja tersebut menjadi bagian dari dinamika politik menjelang Pilkades Cengkong. Di tengah beragam dukungan dan harapan terhadap calon pemimpin desa, pesan tentang pentingnya persatuan patut menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat.
Pada akhirnya, Pilkades bukan hanya tentang siapa yang akan berdiri sebagai kepala desa, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat tetap mampu berdiri berdampingan setelah seluruh proses pemilihan selesai.
Karena kemenangan dalam demokrasi akan terasa lebih bermakna ketika tidak ada persaudaraan yang harus dikorbankan. Berbeda pilihan boleh, berbeda dukungan adalah hak, tetapi persatuan dan kerukunan warga Desa Cengkong harus tetap menjadi yang utama.
(Aj)
































