Karawang/mediapresisi.id –
Turunnya hujan menjadi harapan baru bagi masyarakat, khususnya para petani yang menggantungkan kehidupan dan masa depan keluarganya pada hasil bumi. Dengan penuh rasa syukur dan semangat kebersamaan, Karang Taruna (Katar) Desa Darawolong Kecamatan Purwasari Kabupaten Karawang, menggelar kegiatan ritual adat Babarit untuk menyambut datangnya hujan, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di talaga Dusun Krajan, Desa Darawolong, tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas turunnya hujan, sekaligus memanjatkan doa agar diberikan keberkahan, keselamatan, serta hasil panen yang melimpah.
Di tengah harapan para petani akan musim tanam yang baik, tradisi Babarit bukan sekadar seremoni adat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan alam, ungkapan syukur atas karunia Tuhan, serta ikhtiar bersama dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Babarit atau babaritan merupakan tradisi adat masyarakat Sunda yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual ini umumnya dilaksanakan sebagai bentuk syukuran desa, dengan harapan kehidupan masyarakat senantiasa diliputi keberkahan, dijauhkan dari marabahaya, serta diberikan ketenteraman dan kesejahteraan.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat juga memanjatkan doa agar Desa Darawolong terhindar dari berbagai bencana alam, wabah penyakit, serta ancaman hama yang dapat mengganggu pertanian dan kehidupan warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Karang Taruna Desa Darawolong, Anto Ilyas Mukhtar, menyampaikan harapannya agar pelaksanaan Babarit dalam menyambut hujan pertama ini membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh masyarakat, terutama para petani di wilayah Desa Darawolong.
“Babarit menyambut hujan pertama ini, kami selaku Karang Taruna Desa Darawolong berharap semoga Babarit atau syukuran ini menjadi keberkahan buat para petani di wilayah Desa Darawolong,” ungkap Anto.
Harapan tersebut mencerminkan besarnya arti hujan bagi masyarakat pedesaan. Bagi para petani, hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan sumber kehidupan yang menentukan keberlangsungan tanaman, keberhasilan masa tanam, dan harapan akan panen yang lebih baik.
Di balik setiap tetes hujan, tersimpan doa dan penantian panjang para petani yang berharap tanah kembali subur, tanaman tumbuh dengan baik, dan hasil panen mampu menopang kehidupan keluarga mereka.
Menurut keterangan Anto Ilyas Mukhtar, tradisi Babarit di Desa Darawolong terakhir kali dilaksanakan pada 2018. Setelah beberapa tahun tidak digelar, pelaksanaan kegiatan pada 2026 ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi yang memiliki nilai budaya, spiritual, dan sosial bagi masyarakat setempat.
Anto berharap, ke depan kegiatan Babarit dapat kembali dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga tradisi leluhur tersebut tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Keinginan itu sekaligus menjadi ajakan bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah. Sebab, warisan leluhur bukan hanya tentang ritual yang dilaksanakan, melainkan juga tentang nilai gotong royong, rasa syukur, kepedulian, dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pelaksanaan Babarit di talaga Dusun Krajan menjadi pengingat bahwa kebudayaan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, tradisi semacam ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kerukunan, dan menyatukan harapan seluruh warga.
Bagi masyarakat Desa Darawolong, menyambut hujan melalui Babarit bukan hanya tentang merayakan datangnya musim penghujan. Ada doa yang dititipkan, ada tradisi yang ingin dipertahankan, dan ada harapan besar agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera.
Kini, bersama turunnya hujan, masyarakat kembali menaruh harapan pada tanah yang digarap dan benih yang ditanam. Semoga musim tanam berjalan baik, para petani memperoleh hasil panen yang melimpah, serta Desa Darawolong senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, dan keberkahan.
Sebab, ketika hujan datang membawa harapan, kebersamaan menjadi kekuatan, dan tradisi menjadi pengingat akan jati diri sebuah masyarakat.
(Aj)*
































